Waspada penipuan di Media Sosial !!!

Kalian semua pasti sudah kenal kan yang namanya penipuan online atau di jejaring sosial? Pada zaman sekarang ini,banyak sekali bahaya yang telah terjadi seperti banyaknya kasus penipuan Cyber Ethics yang semakin semarak dan semakin banyak orang di seluruh dunia ini melakukan penipuan maupun yang tertipu, baik melalui media sosial media cetak dan banyak jejaring sosial yang lainnya. mereka yang melakukan penipuan Cyber Ethics itu pasti pada umumnya tujuan akhir dari mereka semua adalah untuk menghasilkan uang dan keuntungan yang banyak.

Sampai-sampai untuk mendapatkan hasil keuntungan yang besar banyak sekelompok orang yang melakukan penculikkan terhadap anak-anak kecil dengan maksud dan tujuan untuk mempekerjakan mereka untuk menjadi pengemis meminta-minta uang di jalan jadi semakin banyak anak yang di culik dan di pekerjakan untuk menjadi pengemis maka hasil yang didapatkan juga akan semakin besar, oleh sebab itu selain kasus penipuan yang semakin banyak dan mendunia, sama juga kasus penculikkan juga semakin banyak juga.

Lalu banyak juga kita sering jumpai kasus penipuan Cyber Ethics melalui situs jejaring sosial salah satu contohnya, pasti juga kita pernah jumpai banyak kasus penipuan melalui sms, yang mengatakan di sms bahwa akan mendapatkan hadiah mobil dan sepeda motor tetapi si pengirim sms meminta untuk pergi ke bank dan melakukan pengecekkan di nomer rekening si penerima sms dengan maksud apakah saldo si penerima sms sudah bertambah atau belum, lalu maksud dari si pengirim sms setelah melakukan pengecekkan saldo di bank si pengirirm sms dapat melakukan tindak kejahatan atau pencurian sesuai dengan rencana si pengirim sms tersebut.
gambar1

CONTOH KASUS PENIPUAN TERBARU lainnya yang baru saja terjadi pada mahasiswa Surabaya pada November 2015 ini, yaitu penipuan di jejaring sosial Via Line. Modus penipuan yang terjadi terbaru ini yaitu:

  1. Penipu menggunakan account fake dengan nama dan foto yang sama dengan korban untuk mengirim pesan kepada korban.
    2. Penipu memberikan pesan untuk meminta pulsa dan memberikan nomor yang akan dikirimkan pulsa kepada penipu.
    3. Pada akhirnya penipu ini tidak mentransfer uang pulsa total sebesar Rp.600.000.
    Korban yang terkena masalah ini menyarankan kepada pembaca blog ini untuk lebih berhati-hati dalam memerima pesan.

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

 

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Bagi anda yang telah terkena kasus penipuan semacam ini ada langkah-langkah yang bisa ditindaki untuk mencari pelaku yang sebenarnya, dengan cara:
1. mengecek nomor handphone yang di mintai untuk mengisi pulsa
2. melihat perdana apa yang digunakan
3. mendatangi Kantor sesuai dengan nomor perdana yang digunakan
4. meminta bantuan kepada customer service untuk mengecek biodata yang ada dalam perdana penipu tersebut.

Yang harus diwaspadai ketika menerima pesan atau telepon atau dalam bentuk apapun:
– jika si penelepon atau penipu jejaring sosial menanyakan identitas atau alamat tempat tinggal anda harus waspada,, jangan memberikan informasi apapun kepadanya, karena itu dapat membuat si penipu semakin mudah untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan yang lainnya.
– jika si penelopon atau si calon penipu jejaring sosial ingin meminta untuk melakukan pembayaran, sebaiknya jangan melakukan transaksi apapun dan tanyakan dulu lebih jelasnya dan pahami motif dari cara berbicaranya dan harus dengan maksud dan tujuan yang jelas.

 

Cara mengatasi

Home » Sosial Media » Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial dan Modus Penipuan

Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial dan Modus Penipuan

Jejaring sosial memang sangat membantu untuk komunikasi kepada saudara atau teman kita yang berada jauh, tapi bagaimana jika jejaring sosial dimanfaatkan oleh seorang penipu? Baru saja saya melihat berita tentang kasus penipuan di jejaring sosial, biasanya korbannya adalah wanita, entah itu korban pemerko*saan, pemerasan, penipuan dan lain sebagainya.

Tapi juga tidak dipungkiri wanita juga melakukan penipuan, biasanya lelaki yang menjadi korban diperas uangnya. Sistem penipuan ini seperti jual beli barang, klik, deal, ketemuaan. Nah bagaimana cara mengatasi penipuan di jejaring sosial? berikut adalah Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial, Curigai Modus Penipuan.

sumber gambar google image

Blokir Akunnya!

Yap, blokir. Jika ada seseorang yang mengirim pesan ke anda menggunakan kata-kata senonoh sehingga membuat anda merasa tidak nyaman, sebaiknya blokir akun sosial nya. Mengatasi lebih baik dari pada mengobati bukan?

Minta Uang

Seandainya anda sudah memiliki suatu teman yang akrab di dunia maya jangan mudah percaya akan kata-katanya. Beberapa penipu memeras anda dengan meminta pengiriman sejumlah uang dengan berbagai alasan, entah itu untuk biaya berobat, sekolah dan biaya sejumlah uang besar lainnya, sebagai contoh “tolong aku dong, aku butuh biaya rumah sakit adikku 500rb, tolong kirim ke nomor rekening ini yah”. Sebaiknya anda menolak mengirimkan sejumlah uang kepada orang yang anda kenal di dunia maya.

Jangan Mudah Percaya

Jangan mudah percaya kepada orang yang baru saja dikenal, apalagi di dunia maya. Di dunia nyata saja orang yang sekalipun kita percaya bisa membohongi kita, apalagi orang yang berada di dunia maya.

Mengobral Perhatian dan Janji Manis

Berhati-hatilah dengan seseorang yang mengajak anda ketemuaan dengan mengiming-imingkan sesuatu untuk menghasut anda. Janji manis untuk menjadi pasangan sehidup semati, jika anda ingin ketemuaan dengan seseorang yang dikenal di jejaring sosial sebaiknya anda mengajak teman anda, dan memberitahukan orang tua anda bahwa anda akan pergi ke suatu tempat. Hal ini dilakukan untuk mengantipasi jika terjadi penculikan.

Nah baru saja anda membaca beberapa Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial, Curigai Modus Penipuan. Semoga kini anda lebih berhati-hati kepada penipu online tersebut.

Menurut data Symantec, informasi user dan account email, kartu kredit, dan lain-lain diperjual belikan di dunia maya. Sebagai contoh, informasi kartu kredit bisa dijual seharga 5 dolar AS per data. Harganya bisa tiga kali lipat lebih besar jika terdapat informasi nomor CVV (kode validasi) yang biasanya dicantumkan di bagian belakang kartu kredit tersebut.

Selain kartu kredit, ada lagi informasi yang lebih mahal harganya. Contohnya password akun e-mail. Kalau valid, harganya bisa mencapai 350 dolar AS. Informasi akun pelanggan bank juga begitu, per user, harganya bisa sampai 400 dolar. Demikian pula untuk user dan password akun jejaring sosial seperti Facebook. Meskipun belum ada informasi nominal harganya, tetapi informasi tersebut juga diperjualbelikan.

Sebagai contoh, kasus terbaru yang terjadi di Sydney, Australia pada Jumat 7 November lalu. Ketika itu Karina Wells menerima pesan di Facebook dari rekannya, Adrian, yang menyatakan bahwa ia sedang terjebak di sekitar Lagos, Nigeria. Adrian menyebutkan bahwa ia butuh pinjaman 500 dolar AS dari Karina agar ia bisa membeli tiket pulang.

Yang membuat Karina Wells curiga adalah, rekannya, Adrian biasanya menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Ketika chatting lebih lanjut, penggunaan kata “cell” bukannya “mobile phone” menyadarkan Wells bahwa ia sedang tidak berbicara dengan rekannya. Melainkan orang lain yang telah mencuri akun Facebook-nya. Untungnya Karina cepat sadar dan tidak terjebak untuk mengirimkan uang pada “temannya” itu.

Pencurian Identitas
Berbagai macam metode pencurian informasi digunakan oleh pelaku kejahatan dunia maya untuk mendapatkan password. Menggunakan program brute force (yang menebak secara acak), menggunakan program keylogger (mencatat password yang diketikkan pengguna), menggunakan virus yang mampu merekam aktivitas pengguna, ataupun menggunakan situs palsu yang sengaja dibuat dengan pancingan terlebih dahulu.

Contoh yang sedang marak terjadi adalah pengguna dikirimi email berisi link ke situs tertentu, email berisi trojan, ataupun email berisi video. Email berisi link, bila pengguna terpancing untuk membuka situs asli tapi palsu tersebut biasanya memerintahkan pengguna itu memasukkan user name dan password. Bila berisi trojan, program akan menginstalasikan diri (baik dengan persetujuan atau tanpa sepengetahuan pengguna). Setelah itu program yang terinstalasi akan mentransmisikan seluruh informasi yang ada di komputer tersebut. Bila email berisi video, maka ketika penggunanya tertarik untuk melihatnya, biasanya pengguna akan diminta untuk menginstalasikan “video player” yang sebetulnya berupa program jahat yang akan memata-matai aktivitas pengguna.

Jika pelaku cybercrime berhasil mendapatkan acount email dan password, atau informasi login ke situs jejaring sosial milik seorang pengguna, maka pelaku memiliki peluang untuk mendapatkan “penghasilan” dari kontak-kontak yang ada di akun pengguna tersebut. Contohnya seperti yang terjadi pada kasus di atas.

“Menggunakan situs seperti Facebook memungkinkan para penipu untuk mencari dan membidik target secara efektif tanpa kemungkinan pesan mereka diblokir oleh program penyaring spam,” ungkap Paul Ducklin, Head of Technology Sophos Asia Pacific pada Sydney Morning Herald. “Kemungkinan, penipu pada kasus di atas mendapatkan informasi login milik Adrian setelah komputernya terserang virus yang dikirimkan via email ataupun situs yang mengandung virus,” tambahnya.

Kuncinya ada di Pengguna
Seperti kejahatan lainnya, titik lemah dari sistem keamanan terletak di penggunanya. Sekarang ini beragam aplikasi dan solusi penangkal virus, trojan, sampai ke situs phising (situs penipuan) sudah tersebar. Mulai dari yang gratisan sampai yang harganya ribuan dolar AS ada.

Tetapi semua bentuk pengamanan tersebut tidak akan bermanfaat kalau perilaku pengguna tidak hati-hati, tidak awas, atau ceroboh. Contoh percobaan penipuan menggunakan situs jejaring sosial di Sydney di atas adalah salah satunya. Pengguna yang awas tidak akan begitusaja tertipu meskipun penjahat dunia maya sudah berhasil mendapatkan informasi identitas rekannya.

Ada baiknya membaca dengan seksama email yang masuk ke inboks, pesan yang datang ke jendela instant messenger, ataupun pesan pribadi yang datang ke akun di forum atau situs jejaring sosial. Meskipun itu datang dari rekan sendiri. Kalau perlu, lakukan cross check dengan cara konvensional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *