Sosial Media Digital

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Jejaring sosial dan sosial media memang tengah marak saat ini. Sebut saja situs jejaring social yang mendulang sukses seperti Facebook dan Twitter. Apalagi sejak semakin berkembangnya teknologi telepon genggam atau handphone, semua seperti dalam genggaman. Difasilitasi handphone yang canggih dengan situs-situs jejaring sosial tersebut, kita bisa mendapatkan akses lebih cepat, di mana saja dan kapan saja. Indonesia termasuk salah satu negara dengan pengguna Facebook dan Twitter terbanyak di dunia.

Sebenarnya, banyak manfaat yang bisa dirasakan atas kehadiran situs-situs jejaring sosial tersebut. Informasi bisa dengan cepat dibagi kepada siapa saja yang diinginkan, hanya dalam hitungan detik. Kita bisa berbagi momen-momen tertentu dengan kerabat lain hanya dengan mengunggah foto pada akun pribadi. Itu semua bisa dilakukan dengan mudah tanpa dipungut biaya, hanya perlu berbekal koneksi internet saja. Untuk mereka yang berjiwa bisnis, kemudahan ini pun bisa dijadikan peluang yang cukup menjanjikan. Jejaring sosial yang dikunjungi ribuan para pengguna setiap harinya bisa dijadikan media promosi gratis dan tidak terbatas. Anda bisa mempromosikan apapun jenis bisnisnya, baik berupa produk maupun jasa. Bukan hanya sebagai media promosi saja, untuk mereka yang masih coba-coba berbisnis bisa membuka toko maya di akun pribadi dan berjualan secara online.

Kemudahan ini memang menjadi hak semua orang, tanpa terkecuali. Jika tidak digunakan secara benar, adanya jejaring sosial tidak hanya mempermudah tindakan-tindakan positif tetapi juga negatif. Oknum yang menyalahgunakan fungsi jejaring sosial untuk hal-hal negatif juga akan ikut merasakan kemudahan tersebut. Saat ini, sudah banyak tindak kejahatan yang dilaporkan terjadi melalui perantara jejaring sosial, seperti kasus pencemaran nama baik, penipuan, pemerkosaan tidak terencana maupun terencana, sampai kasus pembunuhan. Terutama pada usia remaja yang belum matang sehingga mudah percaya dengan iming-iming dari orang yang tidak dikenal. Sampai saat ini sudah banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh orang yang baru saja dikenal pada jejaring sosial. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas mengenai Kejahatan di Balik Jejaring Social.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Jejaring Sosial

  • Pengertian Jejaring Sosial

Jejaring sosial adalah struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga. Istilah ini diperkenalkan oleh profesor J.A. Barnes di tahun 1954. Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang di ikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll.

  • Sejarah Jejaring Sosial

Sejak komputer dapat dihubungkan satu dengan lainnya dengan adanya internet banyak upaya awal untuk mendukung jejaring sosial melalui komunikasi antar komputer. Situs jejaring sosial diawali oleh Classmates.com pada tahun 1995 yang berfokus pada hubungan antar mantan teman sekolah dan SixDegrees.com pada tahun 1997 yang membuat ikatan tidak langsung. Dua model berbeda dari jejaring sosial yang lahir sekitar pada tahun 1999 adalah berbasiskan kepercayaan yang dikembangkan oleh Epinions.com, dan jejaring sosial yang berbasiskan pertemanan seperti yang dikembangkan oleh Uskup Jonathan yang kemudian dipakai pada beberapa situs UK regional di antara 1999 dan 2001. Inovasi meliputi tidak hanya memperlihatkan siapa berteman dengan siapa, tetapi memberikan pengguna kontrol yang lebih akan isi dan hubungan.

Pada tahun 2005, suatu layanan jejaring social MySpace, dilaporkan lebih banyak diakses dibandingkan Google dengan Facebook, pesaing yang tumbuh dengan cepat.Jejaring sosial mulai menjadi bagian dari strategi internet bisnis sekitar tahun 2005 ketika Yahoo meluncurkan Yahoo! 360°. Pada bulan juli 2005 News Corporation membeli MySpace, diikuti oleh ITV (UK) membeli Friends Reunited pada Desember 2005. Diperkirakan ada lebih dari 200 situs jejaring sosial menggunakan model jejaring sosial ini.

  1. Kejahatan

  • Pengertian Kejahatan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) sendiri tidak mendefinisikan secara jelas mengenai kejahatan. Adapun KUHP telah mengatur sejumlah delik kejahatan dalam Pasal 104 hingga Pasal 488 KUHP.

Sejumlah pakar hukum pidana mendefinisikan kejahatan berdasarkan pemikiran mereka masing-masing, salah satunya adalah R. Soesilo. Definisi “Kejahatan” menurut R.Soesilo dalam bukunya berjudul “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal” (1985, Penerbit Politeia) membedakan pengertian kejahatan menjadi dua sudut pandang yakni sudut pandang secara yuridis sudut pandang sosiologis.

Dilihat dari sudut pandang yuridis, menurut R. Soesilo, pengertian kejahatan adalah suatu perbuatan tingkah laku yang bertentangan dengan undang-undang. Dilihat dari sudut pandang sosiologis, pengertian kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban.

Kejahatan Internet atau yang sering kita dengar dengan istilah cyber crime definisinya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”).

  1. Kejahatan yang terjadi akibat jejaring social

Seiring dengan perkembangan teknologi Internet, menyebabkan munculnya kejahatan yang disebut dengan “CyberCrime” 

Pengertian Cybercrime

Cybercrime merupakan bentuk-bentuk kejahatan yang timbul karena pemanfaatan teknologi internet. Dapat pula didefinisikan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi.

Karakteristik Cybercrime

Selama ini dalam kejahatan konvensional, dikenal adanya dua jenis kejahatan sebagai berikut:

  1. Kejahatan kerah biru (blue collar crime)

Kejahatan ini merupakan jenis kejahatan atau tindak kriminal yang dilakukan secara konvensional seperti misalnya perampokkan, pencurian, pembunuhan dan lain-lain.

  1. Kejahatan kerah putih (white collar crime)

Kejahatan jenis ini terbagi dalam empat kelompok kejahatan, yakni kejahatan korporasi, kejahatan birokrat, malpraktek, dan kejahatan individu.

Cybercrime sendiri sebagai kejahatan yang muncul sebagai akibat adanya komunitas dunia maya di internet, memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kedua model di atas. Karakteristik unik dari kejahatan di dunia maya tersebut antara lain menyangkut lima hal berikut:

  1. Ruang lingkup kejahatan

  2. Sifat kejahatan

  3. Pelaku kejahatan

  4. Modus Kejahatan

  5. Jenis kerugian yang ditimbulkan

Jenis Cybercrime

Berdasarkan jenis aktifitas yang dilakukannya, cybercrime dapat digolongkan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

  1. Unauthorized Access

Merupakan kejahatan yang terjadi ketika seseorang memasuki atau menyusup ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin, atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer yang dimasukinya. Probing dan port merupakan contoh kejahatan ini.

  1. Illegal Contents

Merupakan kejahatan yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau menggangu ketertiban umum, contohnya adalah penyebaran pornografi.

  1. Penyebaran virus secara sengaja

Penyebaran virus pada umumnya dilakukan dengan menggunakan email. Sering kali orang yang sistem emailnya terkena virus tidak menyadari hal ini. Virus ini kemudian dikirimkan ke tempat lain melalui emailnya.

  1. Data Forgery

Kejahatan jenis ini dilakukan dengan tujuan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di internet. Dokumen-dokumen ini biasanya dimiliki oleh institusi atau lembaga yang memiliki situs berbasis web database.

  1. Cyber Espionage, Sabotage, and Extortion

Cyber Espionage merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer pihak sasaran. Sabotage and Extortion merupakan jenis kejahatan yang dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet.

  1. Cyberstalking

Kejahatan jenis ini dilakukan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan memanfaatkan komputer, misalnya menggunakan e-mail dan dilakukan berulang-ulang. Kejahatan tersebut menyerupai teror yang ditujukan kepada seseorang dengan memanfaatkan media internet. Hal itu bisa terjadi karena kemudahan dalam membuat email dengan alamat tertentu tanpa harus menyertakan identitas diri yang sebenarnya.

  1. Carding

Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.

  1. Hacking dan Cracker

Istilah hacker biasanya mengacu pada seseorang yang punya minat besar untuk mempelajari sistem komputer secara detail dan bagaimana meningkatkan kapabilitasnya. Adapun mereka yang sering melakukan aksi-aksi perusakan di internet lazimnya disebut cracker. Boleh dibilang cracker ini sebenarnya adalah hacker yang yang memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif. Aktivitas cracking di internet memiliki lingkup yang sangat luas, mulai dari pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran. Tindakan yang terakhir disebut sebagai DOS (Denial Of Service). Dos attack merupakan serangan yang bertujuan melumpuhkan target (hang, crash) sehingga tidak dapat memberikan layanan.

  1. Cybersquatting and Typosquatting

Cybersquatting merupakan kejahatan yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga yang lebih mahal. Adapun typosquatting adalah kejahatan dengan membuat domain plesetan yaitu domain yang mirip dengan nama domain orang lain. Nama tersebut merupakan nama domain saingan perusahaan.

  1. Hijacking

Hijacking merupakan kejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain.Yang paling sering terjadi adalah Software Piracy (pembajakan perangkat lunak).

  1. Cyber Terorism

Suatu tindakan cybercrime termasuk cyber terorism jika mengancam pemerintah atau warganegara, termasuk cracking ke situs pemerintah atau militer.

Berdasarkan Motif Kegiatan

Berdasarkan motif kegiatan yang dilakukannya, cybercrime dapat digolongkan menjadi dua jenis sebagai berikut:

  1. Cybercrime sebagai tindakan murni kriminal

Kejahatan yang murni merupakan tindak kriminal merupakan kejahatan yang dilakukan karena motif kriminalitas. Kejahatan jenis ini biasanya menggunakan internet hanya sebagai sarana kejahatan. Contoh kejahatan semacam ini adalah Carding, yaitu pencurian nomor kartu kredit milik orang lain untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Juga pemanfaatan media internet (webserver, mailing list) untuk menyebarkan material bajakan. Pengirim e-mail anonim yang berisi promosi (spamming) juga dapat dimasukkan dalam contoh kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana. Di beberapa negara maju, pelaku spamming dapat dituntut dengan tuduhan pelanggaran privasi.

  1. Cybercrime sebagai kejahatan ”abu-abu”

Pada jenis kejahatan di internet yang masuk dalam wilayah ”abu-abu”, cukup sulit menentukan apakah itu merupakan tindak kriminal atau bukan mengingat motif kegiatannya terkadang bukan untuk kejahatan. Salah satu contohnya adalah probing atau portscanning. Ini adalah sebutan untuk semacam tindakan pengintaian terhadap sistem milik orang lain dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari sistem yang diintai, termasuk sistem operasi yang digunakan, port-port yang ada, baik yang terbuka maupun tertutup, dan sebagainya.

Berdasarkan Sasaran Kejahatan

Sedangkan berdasarkan sasaran kejahatan, cybercrime dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori seperti berikut ini :

  1. Cybercrime yang menyerang individu (Against Person)

Jenis kejahatan ini, sasaran serangannya ditujukan kepada perorangan atau individu yang memiliki sifat atau kriteria tertentu sesuai tujuan penyerangan tersebut. Beberapa contoh kejahatan ini antara lain :

  • Pornografi

  • Cyberstalking

  • Cyber-Tresspass

  1. Cybercrime menyerang hak milik (Againts Property)

Cybercrime yang dilakukan untuk menggangu atau menyerang hak milik orang lain. Beberapa contoh kejahatan jenis ini misalnya pengaksesan komputer secara tidak sah melalui dunia cyber, pemilikan informasi elektronik secara tidak sah/pencurian informasi, carding, cybersquating, hijacking, data forgery dan segala kegiatan yang bersifat merugikan hak milik orang lain.

  1. Cybercrime menyerang pemerintah (Againts Government)

Cybercrime Againts Government dilakukan dengan tujuan khusus penyerangan terhadap pemerintah. Kegiatan tersebut misalnya cyber terorism sebagai tindakan yang mengancam pemerintah termasuk juga cracking ke situs resmi pemerintah atau situs militer.

Dalam catatan, disebut-sebut Indonesia berada di posisi empat dunia dengan 14,6 juta penggunaan Facebook, sementara untuk pengguna Twitter berjumlah 5,6 juta dan berada pada posisi keenam di dunia.

Sebagai media komunikasi, internet dengan jejaring sosialnya, bisa saja bersifat positif maupun negative. Contoh dampak positif adalah galangan pembebasan Prita Mulyasari dilakukan melalui Facebook berikut dukungan Koin Keadilan-nya, pembebasan dan pemulihan posisi pimpinan KPK Bibit-Chandra juga digalang melalui media jejaring sosial.

Namun, dampak negatif tidak bisa dihindarkan. Luna Maya tersandung kata-kata yang ditulisnya melalui Twitter. Sebagai catatan, kejahatan melalui jejaring sosial bukanlah hal baru, melainkan perubahan bentuk kejahatan tradisional ke berbasis teknologi informasi dan komunikasi, maupun perluasan dari penggunaan internet.

Penyebaran video mesum yang pelakunya di duga mirip artis penyebarannya tak lepas dari situs jejaring sosial. Penipuan terjadi karena banyaknya bisnis jualan yang ditawarkan oleh para user namun kita yang tertarik ingin membeli tidak mengetahui bisnis tersebut jujur atau tidak, karena kurang adanya kepastian dan bukti – bukti nyata, karena hanya bermain dalam dunia “maya” yang semua orang bisa melakukannya. Penculikan banyak terjadi pada anak – anak dibawah umur, mereka masih polos dan dengan mudahnya terayu dengan ajakan orang – orang yang belum mereka kenal, padahal mereka hanya berkomuniaksi melalui facebook. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan juga dapat terjadi karena berawal dari facebook.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pesatnya kemajuan teknologi harus dipelajari dengan baik untuk mengantisipasi kejahatan lewat internet. Beberapa benteng yang dapat menangkal bahayanya facebook adalah keluarga, lingkungan sosial, dan terakhir negara. Di situ, orang tua punya peranan penting untuk mengantisipasi. Orang tua harus mengubah pendekatan dari disiplin otoriter menjadi pendekatan personal kekeluargaan.

Dalam keluarga, seorang ibu memegang peranan penting, anak harus bisa curhat ke keluarga, jangan sampai seorang anak tidak mau lagi curhat ke keluarga dan lebih memilih curhat ke facebook. Karena itu bisa membahayakan. Selama orangtua belum bisa menjadi tempat curhat anak, maka anak akan menjadikan teman di FB sebagai tempat curhat.

Selain itu pengguna jejaring sosial harus diberdayakan. Karena berpotensi digunakan untuk kriminalitas, pengguna jejaring sosial yang masih awam perlu diberdayakan agar tidak menjadi sasaran empuk penjahat internet. Karena bersifat anonimous, hendaknya jangan percaya begitu saja dengan jenis kelamin maupun data-data tertentu dari orang yang ingin berteman dengan kita. Data-data kita pun harus dijaga agar tidak semua dibuka dan dapat diakses semua orang. Ajakan orang yang baru dikenal hendaknya dipastikan dulu siapa orang yang mengajak, latar belakangnya, tujuannya dan hal-hal lainnya agar kita tidak menjadi korban kejahatan seperti penipuan maupun penculikan. Apalagi sekarang anak-anak sekolah pun sudah tergabung juga dalam media jejaring sosial, yang sesungguhnya tidak diperkenankan.

Seperti tokoh “Bang Napi” mengatakan, kejahatan itu terjadi karena adanya niat pelaku dan kesempatan. Sehingga, jangan beri kesempatan penjahat untuk menipu, menculik dan hal lainnya yang menggunakan media jejaring sosial. Waspadalah dan manfaatkanlah jejaring sosial secara cerdas.

 

Waspada penipuan di Media Sosial !!!

Kalian semua pasti sudah kenal kan yang namanya penipuan online atau di jejaring sosial? Pada zaman sekarang ini,banyak sekali bahaya yang telah terjadi seperti banyaknya kasus penipuan Cyber Ethics yang semakin semarak dan semakin banyak orang di seluruh dunia ini melakukan penipuan maupun yang tertipu, baik melalui media sosial media cetak dan banyak jejaring sosial yang lainnya. mereka yang melakukan penipuan Cyber Ethics itu pasti pada umumnya tujuan akhir dari mereka semua adalah untuk menghasilkan uang dan keuntungan yang banyak.

Sampai-sampai untuk mendapatkan hasil keuntungan yang besar banyak sekelompok orang yang melakukan penculikkan terhadap anak-anak kecil dengan maksud dan tujuan untuk mempekerjakan mereka untuk menjadi pengemis meminta-minta uang di jalan jadi semakin banyak anak yang di culik dan di pekerjakan untuk menjadi pengemis maka hasil yang didapatkan juga akan semakin besar, oleh sebab itu selain kasus penipuan yang semakin banyak dan mendunia, sama juga kasus penculikkan juga semakin banyak juga.

Lalu banyak juga kita sering jumpai kasus penipuan Cyber Ethics melalui situs jejaring sosial salah satu contohnya, pasti juga kita pernah jumpai banyak kasus penipuan melalui sms, yang mengatakan di sms bahwa akan mendapatkan hadiah mobil dan sepeda motor tetapi si pengirim sms meminta untuk pergi ke bank dan melakukan pengecekkan di nomer rekening si penerima sms dengan maksud apakah saldo si penerima sms sudah bertambah atau belum, lalu maksud dari si pengirim sms setelah melakukan pengecekkan saldo di bank si pengirirm sms dapat melakukan tindak kejahatan atau pencurian sesuai dengan rencana si pengirim sms tersebut.
gambar1

CONTOH KASUS PENIPUAN TERBARU lainnya yang baru saja terjadi pada mahasiswa Surabaya pada November 2015 ini, yaitu penipuan di jejaring sosial Via Line. Modus penipuan yang terjadi terbaru ini yaitu:

  1. Penipu menggunakan account fake dengan nama dan foto yang sama dengan korban untuk mengirim pesan kepada korban.
    2. Penipu memberikan pesan untuk meminta pulsa dan memberikan nomor yang akan dikirimkan pulsa kepada penipu.
    3. Pada akhirnya penipu ini tidak mentransfer uang pulsa total sebesar Rp.600.000.
    Korban yang terkena masalah ini menyarankan kepada pembaca blog ini untuk lebih berhati-hati dalam memerima pesan.

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

 

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Anda bisa menghubungi http://www.polri.go.id/cu/ atau mengirimkan email laporan ke : info@polri.go.id atau menghubungi nomor kepolisian setempat untuk ditindak lanjuti.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/bagaimana-mengenali-tanda-tanda-kenalan-anda-adalah-scammer_54f6ff16a33311171f8b4576

Bagi anda yang telah terkena kasus penipuan semacam ini ada langkah-langkah yang bisa ditindaki untuk mencari pelaku yang sebenarnya, dengan cara:
1. mengecek nomor handphone yang di mintai untuk mengisi pulsa
2. melihat perdana apa yang digunakan
3. mendatangi Kantor sesuai dengan nomor perdana yang digunakan
4. meminta bantuan kepada customer service untuk mengecek biodata yang ada dalam perdana penipu tersebut.

Yang harus diwaspadai ketika menerima pesan atau telepon atau dalam bentuk apapun:
– jika si penelepon atau penipu jejaring sosial menanyakan identitas atau alamat tempat tinggal anda harus waspada,, jangan memberikan informasi apapun kepadanya, karena itu dapat membuat si penipu semakin mudah untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan yang lainnya.
– jika si penelopon atau si calon penipu jejaring sosial ingin meminta untuk melakukan pembayaran, sebaiknya jangan melakukan transaksi apapun dan tanyakan dulu lebih jelasnya dan pahami motif dari cara berbicaranya dan harus dengan maksud dan tujuan yang jelas.

 

Cara mengatasi

Home » Sosial Media » Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial dan Modus Penipuan

Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial dan Modus Penipuan

Jejaring sosial memang sangat membantu untuk komunikasi kepada saudara atau teman kita yang berada jauh, tapi bagaimana jika jejaring sosial dimanfaatkan oleh seorang penipu? Baru saja saya melihat berita tentang kasus penipuan di jejaring sosial, biasanya korbannya adalah wanita, entah itu korban pemerko*saan, pemerasan, penipuan dan lain sebagainya.

Tapi juga tidak dipungkiri wanita juga melakukan penipuan, biasanya lelaki yang menjadi korban diperas uangnya. Sistem penipuan ini seperti jual beli barang, klik, deal, ketemuaan. Nah bagaimana cara mengatasi penipuan di jejaring sosial? berikut adalah Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial, Curigai Modus Penipuan.

sumber gambar google image

Blokir Akunnya!

Yap, blokir. Jika ada seseorang yang mengirim pesan ke anda menggunakan kata-kata senonoh sehingga membuat anda merasa tidak nyaman, sebaiknya blokir akun sosial nya. Mengatasi lebih baik dari pada mengobati bukan?

Minta Uang

Seandainya anda sudah memiliki suatu teman yang akrab di dunia maya jangan mudah percaya akan kata-katanya. Beberapa penipu memeras anda dengan meminta pengiriman sejumlah uang dengan berbagai alasan, entah itu untuk biaya berobat, sekolah dan biaya sejumlah uang besar lainnya, sebagai contoh “tolong aku dong, aku butuh biaya rumah sakit adikku 500rb, tolong kirim ke nomor rekening ini yah”. Sebaiknya anda menolak mengirimkan sejumlah uang kepada orang yang anda kenal di dunia maya.

Jangan Mudah Percaya

Jangan mudah percaya kepada orang yang baru saja dikenal, apalagi di dunia maya. Di dunia nyata saja orang yang sekalipun kita percaya bisa membohongi kita, apalagi orang yang berada di dunia maya.

Mengobral Perhatian dan Janji Manis

Berhati-hatilah dengan seseorang yang mengajak anda ketemuaan dengan mengiming-imingkan sesuatu untuk menghasut anda. Janji manis untuk menjadi pasangan sehidup semati, jika anda ingin ketemuaan dengan seseorang yang dikenal di jejaring sosial sebaiknya anda mengajak teman anda, dan memberitahukan orang tua anda bahwa anda akan pergi ke suatu tempat. Hal ini dilakukan untuk mengantipasi jika terjadi penculikan.

Nah baru saja anda membaca beberapa Tips Mengatasi Penipuan di Jejaring Sosial, Curigai Modus Penipuan. Semoga kini anda lebih berhati-hati kepada penipu online tersebut.

Menurut data Symantec, informasi user dan account email, kartu kredit, dan lain-lain diperjual belikan di dunia maya. Sebagai contoh, informasi kartu kredit bisa dijual seharga 5 dolar AS per data. Harganya bisa tiga kali lipat lebih besar jika terdapat informasi nomor CVV (kode validasi) yang biasanya dicantumkan di bagian belakang kartu kredit tersebut.

Selain kartu kredit, ada lagi informasi yang lebih mahal harganya. Contohnya password akun e-mail. Kalau valid, harganya bisa mencapai 350 dolar AS. Informasi akun pelanggan bank juga begitu, per user, harganya bisa sampai 400 dolar. Demikian pula untuk user dan password akun jejaring sosial seperti Facebook. Meskipun belum ada informasi nominal harganya, tetapi informasi tersebut juga diperjualbelikan.

Sebagai contoh, kasus terbaru yang terjadi di Sydney, Australia pada Jumat 7 November lalu. Ketika itu Karina Wells menerima pesan di Facebook dari rekannya, Adrian, yang menyatakan bahwa ia sedang terjebak di sekitar Lagos, Nigeria. Adrian menyebutkan bahwa ia butuh pinjaman 500 dolar AS dari Karina agar ia bisa membeli tiket pulang.

Yang membuat Karina Wells curiga adalah, rekannya, Adrian biasanya menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Ketika chatting lebih lanjut, penggunaan kata “cell” bukannya “mobile phone” menyadarkan Wells bahwa ia sedang tidak berbicara dengan rekannya. Melainkan orang lain yang telah mencuri akun Facebook-nya. Untungnya Karina cepat sadar dan tidak terjebak untuk mengirimkan uang pada “temannya” itu.

Pencurian Identitas
Berbagai macam metode pencurian informasi digunakan oleh pelaku kejahatan dunia maya untuk mendapatkan password. Menggunakan program brute force (yang menebak secara acak), menggunakan program keylogger (mencatat password yang diketikkan pengguna), menggunakan virus yang mampu merekam aktivitas pengguna, ataupun menggunakan situs palsu yang sengaja dibuat dengan pancingan terlebih dahulu.

Contoh yang sedang marak terjadi adalah pengguna dikirimi email berisi link ke situs tertentu, email berisi trojan, ataupun email berisi video. Email berisi link, bila pengguna terpancing untuk membuka situs asli tapi palsu tersebut biasanya memerintahkan pengguna itu memasukkan user name dan password. Bila berisi trojan, program akan menginstalasikan diri (baik dengan persetujuan atau tanpa sepengetahuan pengguna). Setelah itu program yang terinstalasi akan mentransmisikan seluruh informasi yang ada di komputer tersebut. Bila email berisi video, maka ketika penggunanya tertarik untuk melihatnya, biasanya pengguna akan diminta untuk menginstalasikan “video player” yang sebetulnya berupa program jahat yang akan memata-matai aktivitas pengguna.

Jika pelaku cybercrime berhasil mendapatkan acount email dan password, atau informasi login ke situs jejaring sosial milik seorang pengguna, maka pelaku memiliki peluang untuk mendapatkan “penghasilan” dari kontak-kontak yang ada di akun pengguna tersebut. Contohnya seperti yang terjadi pada kasus di atas.

“Menggunakan situs seperti Facebook memungkinkan para penipu untuk mencari dan membidik target secara efektif tanpa kemungkinan pesan mereka diblokir oleh program penyaring spam,” ungkap Paul Ducklin, Head of Technology Sophos Asia Pacific pada Sydney Morning Herald. “Kemungkinan, penipu pada kasus di atas mendapatkan informasi login milik Adrian setelah komputernya terserang virus yang dikirimkan via email ataupun situs yang mengandung virus,” tambahnya.

Kuncinya ada di Pengguna
Seperti kejahatan lainnya, titik lemah dari sistem keamanan terletak di penggunanya. Sekarang ini beragam aplikasi dan solusi penangkal virus, trojan, sampai ke situs phising (situs penipuan) sudah tersebar. Mulai dari yang gratisan sampai yang harganya ribuan dolar AS ada.

Tetapi semua bentuk pengamanan tersebut tidak akan bermanfaat kalau perilaku pengguna tidak hati-hati, tidak awas, atau ceroboh. Contoh percobaan penipuan menggunakan situs jejaring sosial di Sydney di atas adalah salah satunya. Pengguna yang awas tidak akan begitusaja tertipu meskipun penjahat dunia maya sudah berhasil mendapatkan informasi identitas rekannya.

Ada baiknya membaca dengan seksama email yang masuk ke inboks, pesan yang datang ke jendela instant messenger, ataupun pesan pribadi yang datang ke akun di forum atau situs jejaring sosial. Meskipun itu datang dari rekan sendiri. Kalau perlu, lakukan cross check dengan cara konvensional

Kejahatan di Media Sosial

Popularitas Media Sosial

Media sosial menjadi hal yang biasa akhir – akhir ini. Era teknologi saat ini berkembang begitu pesat. Banyaknya aktivitas – aktivitas yang bisa dilakukan di media sosial menjadi peluang dari segi sosial, ekonomi dan bisnis. Facebook memiliki kurang lebih 6 miliar pengguna yang terdaftar di dalam database mereka. Instagram menjadi popular karena fleksibilitasnya dan efisiensinya ketika saling berbagi foto.

Banyak orang bisa saling berbagi dan berinteraksi satu sama lain tanpa adanya batasan apapun. Kita bisa saling berbagi foto, status bahkan melakukan jual beli secara online melalui media sosial. Banyak hal – hal menguntungkan bisa dilakukan di media sosial. Namun, banyak hal – hal merugikan pula yang bisa terjadi di media sosial.

Popularitas media sosial dalam kehidupan masyarakat saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang di dunia.

 

Kejahatan di Dunia Maya

Menjadi suatu hal biasa bagi banyak orang untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi secara online di sosial media. Bagi sebagian orang, banyak pula kejahatan yang bisa dilakukan untk mendapatkan keuntungan di media sosial. Berikut kejahatan – kejahatan yang biasa terjadi di media sosial :

  1. Pencurian Akun Sosmed
    Pencurian akun sosmed adalah hal yang paling sering terjadi di dunia maya. Namun, memang tidak sembarang orang bisa melakukan hal ini. Diperlukan keahlian dalam hal IT yang cukup baik untuk melakukannya.  Pencurian akun biasanya dilakukan pada akun – akun orang yang berpengaruh seperti pebisnis, maupun kalangan artis. Ini biasa dilakukan untuk melakukan pemerasan hingga penyebaran fitnah.
  2. Prostitusi Online
    Berdasarkan PolisiOnline.info, sebagian orang berusaha menggunakan sosial media untuk melakukan aksi bisnis haram ini dengan modus beraneka ragam. Mulai dari pengunggahan foto panas agar orang lain tertarik menggunakan jasanya, hingga menggoda orang lain dengan kata – kata rayuan agar orang tersebut terpikat dan mau menggunakan jasanya.
  3. Penipuan Berkedok Toko Online
    Penipuan dalam jual beli bukan hanya terjadi di dunia nyata. Banyak modus dilakukan oleh pelaku untuk melakukan penipuan ini. Mulai dari menjual produk bermerek dengan bahan palsu, menjual produk bermerek dengan harga sangat miring dan masih banyak lainnya.
  4. Pemerkosaan dan Penculikan
    Aksi kejahatan seperti ini tidak dapat dilakukan di media sosial, tetapi media sosial berperan sebagi perantara dalam melakukan aksi kejahatan tersebut. Modus kejahatan tersebut bervariasi, misalnya mereka menghubungi calon korbannya untuk menawarkan imbalan tertentu atau pekerjaan yang cukup bagus, sampai akhirnya pelaku dan korban bertemu di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Nah saat inilah pelaku melakukan aksinya bisa dengan menculik anda hingga memperkosa anda. Maka dari itu jangan mudah percaya dengan orang lain yang belum anda kenal dengan baik atau kalau memang ingin bertemu ajaklah keluarga atau kerabat anda untuk menemani anda, jangan sampai anda pergi seorang diri.

Author : Ahmad Bagus Aditya Chandra / 04316034